Oxygen scavenger adalah bahan kimia untuk mengikat sisa oksigen terlarut setelah deaerasi mekanis pada sistem boiler. Bahan ini bukan pengganti deaerator, perbaikan masuknya udara, atau pengambilan sampel yang benar. Pemilihan bahan aktif, dosis, titik injeksi, dan target residu harus mengikuti tekanan, temperatur, waktu reaksi, penggunaan uap, metalurgi, serta batas program pabrik.
PT Beta Pramesti Asia menyediakan oxygen scavenger untuk boiler dalam program BETAGARD. Fungsi utamanya adalah pemolesan kimia terhadap sisa oksigen sebelum air mencapai jalur air umpan, economizer, dan boiler yang rentan terhadap pitting.

Bagaimana Oxygen Scavenger Bekerja
Oxygen scavenger bereaksi dengan oksigen terlarut dan mengubahnya menjadi produk oksidasi yang sifatnya bergantung pada bahan aktif. Karena produk reaksi dan produk dekomposisi dapat memengaruhi TDS, kemurnian uap, kondensat, atau proses yang memakai uap, istilah “oxygen scavenger” belum cukup untuk memilih kimia.
Untuk sodium sulfite, reaksi sederhananya adalah:
2 Na₂SO₃ + O₂ → 2 Na₂SO₄
Secara stoikiometri, Veolia Water Handbook menyatakan 7,88 mg sodium sulfite murni diperlukan per 1 mg oksigen terlarut. Kebutuhan aktual lebih tinggi karena kadar produk, residu cadangan, waktu kontak, temperatur, pH, reaksi samping, blowdown, dan kehilangan saat penanganan. Gunakan angka 7,88 hanya sebagai pemeriksaan neraca, bukan setpoint pompa.
Contoh ilustratif: debit air umpan 100 m³/jam dan oksigen terlarut (DO) setelah deaerator 0,010 mg/L. Beban oksigen adalah 100.000 L/jam × 0,010 mg/L = 1.000 mg/jam, atau 1,0 g/jam. Kebutuhan teoritis sodium sulfite murni adalah 1,0 × 7,88 = 7,88 g/jam. Jika larutan benar-benar 20% aktif, ekuivalen teoritisnya 7,88 ÷ 0,20 = 39,4 g/jam sebelum residu cadangan dan kebutuhan lain. Angka 0,010 mg/L serta 20% adalah contoh, bukan spesifikasi atau dosis BETAGARD.
| Batas keputusan | Pertanyaan yang harus dijawab | Implikasi program |
|---|---|---|
| Deaerasi mekanis | Apakah temperatur, tekanan, distribusi uap, vent, dan level deaerator sesuai desain? | Perbaiki deaerator terlebih dahulu; dosis kimia berlebih tidak menyelesaikan pelepasan gas yang buruk |
| Kimia scavenger | Apakah tekanan, tujuan penggunaan uap, attemperation, metalurgi, TDS, dan produk dekomposisi kompatibel? | Sulfite, scavenger organik/volatil, atau program lain tidak dapat dipertukarkan hanya berdasarkan harga |
| Titik injeksi | Apakah ada waktu kontak sebelum economizer dan tidak ada jalur yang melarang padatan atau produk kimia? | Verifikasi P&ID, waktu tinggal, tekanan pompa, serta lembar data teknis dan SDS produk terbaru |
| Pengukuran | Apakah DO dan residu berasal dari titik, metode, debit, temperatur, serta alat yang konsisten? | Tahan perubahan dosis bila mutu sampel belum lolos pemeriksaan |
| Korosi | Apakah pitting, besi/tembaga, pH, deposit, dan kondisi penghentian operasi mendukung diagnosis serangan oksigen? | Jangan menjelaskan semua korosi dengan satu angka DO atau residu |
DOE Energy Efficiency Handbook menempatkan deaerator sebagai penghilang mayoritas oksigen dan scavenger sebagai pengendali trace oxygen. Referensi itu juga memperingatkan bahwa pemilihan scavenger pengganti sulfite pada boiler bertekanan lebih tinggi harus dilakukan oleh personel yang kompeten dan dievaluasi sesuai prosedur operasi.
Mutu Sampling Menentukan Mutu Keputusan
DO berkadar rendah mudah bias karena udara masuk ke tubing, sambungan, atau sel sampel. Gunakan jalur sampel tertutup dan terus mengalir sesuai instrumen/OEM, hilangkan gelembung, stabilkan debit serta temperatur, verifikasi kalibrasi, dan catat beban boiler saat pengambilan. Jangan menuang sampel ke beaker terbuka untuk mengukur DO jejak.
Residu scavenger juga bukan bukti tunggal. Nilai residu perlu dibaca bersama DO setelah deaerator, konsumsi tangki, keluaran pompa, pH, besi/tembaga, dan inspeksi pitting. Jika alat, reagen, titik, atau waktu pengambilan sampel berubah, tandai perubahan tersebut pada tren.

Pentingnya Oxygen Scavenger dalam Industri
Oxygen control penting pada sistem steam karena pitting dapat terkonsentrasi pada feedwater line, economizer, dan boiler. Namun, acceptance program harus memisahkan mechanical performance, chemical delivery, sample quality, dan corrosion evidence.
| Pola data | Kemungkinan pertama | Tindakan sebelum mengubah dosis |
|---|---|---|
| DO setelah deaerator tinggi atau tidak stabil | Vent, distribusi uap, temperatur, tekanan, perubahan beban, atau masuknya udara | Verifikasi operasi deaerator dan sistem sampel; koreksi sumber oksigen |
| DO stabil, residu rendah, pemakaian produk naik | Kekuatan larutan, keluaran pompa, injection quill/check valve, kebutuhan akibat kontaminan, atau metode uji | Lakukan uji susut volume kalibrasi dan uji ulang dengan reagen/metode terverifikasi |
| DO rendah, residu jauh di atas rentang kendali | Dosis berlebih atau sampel residu tidak representatif | Jangan menaikkan dosis; konfirmasi hasil dan evaluasi penurunan terkontrol |
| DO/residu tampak normal, besi atau pitting memburuk | Masuknya udara di lokasi lain, masalah pH/kondensat, deposit, penghentian operasi, atau mekanisme korosi lain | Perluas inspeksi; jangan menyimpulkan scavenger gagal tanpa lokasi dan pola kerusakan |
| Setelan pompa sesuai, susut volume tangki tidak sesuai | Siphoning, kebocoran, tekanan balik, pulsa, densitas/konsentrasi, atau catatan pengisian | Rekonsiliasi massa/volume pada periode yang sama dan perbaiki sistem umpan |
Checklist commissioning dan acceptance:
- dokumentasikan P&ID, tekanan, debit, temperatur, makeup, kondensat balik, penggunaan uap, serta attemperation;
- tetapkan titik injeksi dan titik pengambilan sampel yang memberi waktu reaksi relevan;
- verifikasi keluaran pompa melalui uji susut volume atau penimbangan pada tekanan balik operasi;
- ambil data dasar DO, residu, pH, konduktivitas/TDS, besi/tembaga, dan temuan inspeksi;
- tetapkan batas kendali, batas tindakan, kondisi penahanan/penghentian, dan siapa yang mengesahkan perubahan;
- rekonsiliasi konsumsi produk dengan debit dan perubahan persediaan; serta
- kaji ulang tren pada beban sebanding, termasuk penyalaan, penghentian, dan preservasi.
Pemilihan, penyimpanan, APD, penanganan tumpahan, dan pembuangan harus mengikuti SDS produk serta prosedur pabrik. Untuk bahan yang tergolong B3, rujuk PP Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun; regulasi ini tidak menetapkan dosis oxygen scavenger.
Kesimpulan
Oxygen scavenger adalah tahap pemolesan setelah deaerasi, bukan solusi universal untuk semua korosi boiler. Pilih kimia dari tekanan, temperatur air umpan, penggunaan uap, metalurgi, total padatan terlarut, waktu tinggal, serta lembar data teknis dan SDS produk terbaru; lalu terima program dari tren DO, residu, konsumsi, besi/tembaga, serta inspeksi.
Untuk konteks seluruh siklus, gunakan program kimia boiler industri. Jika masalahnya adalah penyaluran, bukan kimia, dosing pump Watermart adalah pilihan peralatan yang relevan; kapasitas pada tekanan balik, material bagian yang bersentuhan dengan cairan, rentang kendali, pulsa, dan interlock harus sesuai produk serta titik injeksi.
Hubungi Kami
Kirim tekanan dan kapasitas boiler, debit air umpan, temperatur outlet deaerator, DO, makeup/kondensat balik, pH, konduktivitas/TDS, besi/tembaga, penggunaan uap, titik injeksi, keluaran pompa, residu, riwayat pitting, serta kondisi penghentian operasi melalui halaman kontak Beta Pramesti Asia. Tim Beta dapat menilai batas kinerja mekanis dan kimia sebelum memilih BETAGARD serta rencana uji coba.
Sumber teknis: DOE Energy Efficiency Handbook—oxygen removal and scavengers; DOE Steam Tip Sheet No. 18—Deaerators; Veolia Water Handbook—Preboiler and Boiler Corrosion Control; dan PP Nomor 74 Tahun 2001.