PAC tidak otomatis lebih baik daripada alum. Pilihan yang benar adalah koagulan yang, pada air dan kondisi proses yang sama, menghasilkan air lulus spesifikasi dengan biaya total terendah. Bandingkan dosis produk sebagaimana dipasok, kadar aktif dari CoA, perubahan pH/alkalinitas, kebutuhan polimer, lumpur, keterfilteran, dan volume air olahan yang benar-benar diterima.
Pentingnya Air Bersih dan Peran Kimia Pengolahan Air
Koagulasi membantu mendestabilisasi partikel koloid agar flok dapat dibentuk, dipisahkan, lalu ditahan pada sedimentasi, DAF, atau filtrasi. PAC (poly aluminium chloride) dan alum (aluminium sulfat) sama-sama koagulan berbasis aluminium, tetapi spesiasi, kebasaan, kadar aktif, keasaman, bentuk pasokan, dan responsnya terhadap air aktual berbeda.
Karena itu, perbandingan harga per kilogram tidak cukup. Koagulan yang lebih murah per kilogram bisa membutuhkan dosis, koreksi alkalinitas, polimer, dan pengelolaan lumpur lebih besar. Sebaliknya, dosis produk yang lebih rendah belum tentu berarti dosis aktif lebih rendah. PT Beta Pramesti Asia menilai pilihan melalui jar test dan data proses sebelum menghubungkannya dengan koagulan PAC dan ACH industri.

Apa Itu PAC dan Alum?
PAC adalah keluarga koagulan aluminium terpolimerisasi; nama “PAC” saja belum menjelaskan mutu, kebasaan, atau kadar aktif. Alum adalah aluminium sulfat yang juga tersedia dalam beberapa bentuk dan kadar. Perbandingan harus memakai TDS dan CoA lot yang benar, bukan asumsi dari nama dagang.
| Pertanyaan pembeli/operator | PAC | Alum | Bukti yang harus sama saat dibandingkan |
|---|---|---|---|
| Apa basis dosisnya? | mg/L produk sebagaimana dipasok dan kadar aktif pada CoA | mg/L produk sebagaimana dipasok dan kadar aktif pada CoA | Batch air, volume jar, konsentrasi stok, densitas, serta lot produk |
| Bagaimana pengaruhnya pada pH? | Tergantung basicity, dosis, dan alkalinitas air | Umumnya mengonsumsi alkalinitas; besarnya harus diukur pada air aktual | pH/alkalinitas awal-akhir pada waktu yang sama |
| Bagaimana flok dipisahkan? | Dapat cocok untuk sedimentasi, DAF, atau filtrasi bila kondisi pengadukan benar | Juga dapat bekerja pada ketiga proses tersebut | Pengadukan cepat, pengadukan lambat, sedimentasi atau flotasi, temperatur, dan uji filter yang mensimulasikan pabrik |
| Apakah dosis lebih rendah berarti lebih murah? | Belum tentu | Belum tentu | Biaya seluruh program per volume air yang lulus |
US EPA menyebut jar test sebagai alat untuk menentukan jenis dan jumlah kimia bagi pembentukan flok optimum, dengan syarat pengujian mensimulasikan mixing rate dan detention time plant serta prosedurnya terdokumentasi agar dapat direplikasi.

Sejarah dan Evolusi PAC dan Alum
Alum telah lama digunakan sebagai koagulan konvensional, sedangkan PAC dikembangkan sebagai koagulan prapolimerisasi dengan sifat yang dapat berbeda menurut mutu produk. Perkembangan ini memperluas pilihan operator, tetapi tidak menghapus kebutuhan pengujian. Bahkan memorandum teknis EPA mengenai konversi alum ke PAC mencatat potensi keunggulan PAC sekaligus menekankan perlunya riset dan evaluasi pada instalasi yang bersangkutan.
Implikasinya praktis: jangan menjadikan umur teknologi sebagai kriteria. Bandingkan kemampuan pemasok menjaga mutu dan lot, dokumentasi kualitas, ketersediaan, keamanan penanganan, serta hasil pada kondisi air baku normal dan buruk.
Cara Menormalkan Dosis Aktif PAC dan Alum
Normalisasi pertama memisahkan dosis produk dari kadar aktif yang dinyatakan pada CoA. Gunakan basis yang sama—misalnya persen massa sebagai Al₂O₃—hanya bila kedua CoA memang menyatakannya dengan cara yang setara.
Produk terkirim (kg/hari) = dosis produk (mg/L) × debit (m³/hari) ÷ 1.000.
Aktif terdeklarasi (kg/hari) = produk terkirim × fraksi massa aktif pada CoA.
Contoh ilustratif, bukan rekomendasi dosis: pabrik mengolah 5.000 m³/hari. Hasil jar test memakai PAC bubuk 35 mg/L dengan CoA 30% sebagai Al₂O₃ dan alum 55 mg/L dengan CoA 17% sebagai Al₂O₃.
| Hitungan | PAC | Alum |
|---|---|---|
| Produk terkirim | 35 × 5.000 ÷ 1.000 = 175 kg/hari | 55 × 5.000 ÷ 1.000 = 275 kg/hari |
| Aktif terdeklarasi | 175 × 0,30 = 52,50 kg/hari | 275 × 0,17 = 46,75 kg/hari |
| Aktif per m³ | 10,50 g/m³ | 9,35 g/m³ |
Contoh ini menunjukkan bahwa PAC memakai massa produk lebih rendah tetapi aktif terdeklarasi sedikit lebih tinggi. Angka aktif tidak memprediksi kinerja karena kebasaan dan spesiasi berbeda; keputusan tetap berasal dari kualitas air dan performa proses. Gunakan kadar CoA aktual, bukan 30% atau 17% sebagai angka bawaan.
Manfaat dan Batasan PAC
PAC dapat memberi flok, pH akhir, dan performa pada temperatur atau kualitas air tertentu yang lebih menguntungkan daripada alum. Namun, hasil tersebut bergantung pada mutu PAC, kebasaan, air aktual, pengadukan, dan proses pemisahan. Klaim “dosis lebih rendah” atau “lumpur lebih sedikit” hanya valid bila dibuktikan pada basis produk, kadar aktif, padatan lumpur, dan hasil air lulus yang sama.
Batasannya meliputi variasi antarmutu dan pemasok, kebutuhan penyimpanan serta penanganan yang sesuai bentuk produk, potensi dosis berlebih, serta risiko keputusan keliru bila operator hanya mengejar kekeruhan terendah tanpa membaca pH, alkalinitas, residu aluminium yang relevan, keterfilteran, dan lumpur.

Manfaat dan Batasan Alum
Alum mempunyai basis operasi yang dikenal luas dan dapat menjadi opsi efektif ketika air baku, alkalinitas, pH, serta fasilitas penanganan padatan mendukungnya. Harga produk yang kompetitif dan pasokan yang mapan dapat menjadi keunggulan, tetapi hanya setelah biaya koreksi pH/alkalinitas, polimer, dan penanganan lumpur dimasukkan.
Batasannya adalah konsumsi alkalinitas dan respons yang dapat berubah ketika pH, temperatur, warna, atau bahan organik alami berubah. Dosis berlebih juga dapat menghasilkan flok buruk atau residu yang tidak diinginkan. Alum bukan opsi “sederhana” yang boleh dijalankan tanpa rentang uji dosis dan batas kendali.

Karakteristik Air:
Uji minimal mencatat turbiditas, pH, alkalinitas, temperatur, warna, dan parameter sasaran proses. Untuk air minum atau guna ulang sensitif, masukkan TOC/UV254 dan residu aluminium bila relevan. Untuk air limbah, tambahkan TSS, COD terfraksi bila tersedia, minyak, logam, atau parameter izin yang diharapkan ikut flok.
Lakukan rentang uji dosis pada sampel yang mewakili kondisi normal serta kondisi buruk yang benar-benar terjadi. Sampel yang tersimpan terlalu lama, berubah temperatur, atau sudah mengendap tidak lagi merepresentasikan influen.
Pertimbangan Anggaran:
Bandingkan biaya pada 1.000 m³ air yang lulus, bukan 1.000 m³ air yang masuk:
Biaya program/1.000 m³ lulus = (koagulan + koreksi alkalinitas/pH + polimer + energi + penanganan lumpur + pengolahan ulang/pembuangan) ÷ volume air lulus × 1.000.
| Komponen biaya | Data yang dicatat | Mengapa sering terlewat |
|---|---|---|
| Koagulan | kg/hari dari dosis produk sebagaimana dipasok dan harga tiba lokasi | Harga per kg tidak menunjukkan kebutuhan harian |
| Alkali/asam dan polimer | kg/hari pada pengujian yang sama | Bahan kimia pendamping sering dikeluarkan dari perbandingan |
| Lumpur | m³/hari, % padatan, pengurangan kadar air, angkut/pembuangan | Volume lumpur basah tidak sama dengan massa padatan kering |
| Air lulus | m³ yang memenuhi semua kriteria | Pengolahan ulang dan hasil di luar spesifikasi membuat pembagi mengecil |
| Operasi | Pengadukan, pompa, pembersihan, siklus filter/pencucian balik | Dampak hilir dapat melebihi selisih harga koagulan |
Kebutuhan Spesifik Proses Pengolahan:
Jar test perlu mensimulasikan proses aktual. Pengadukan cepat, gradien dan waktu pengadukan lambat, temperatur, penyesuaian pH, polimer, serta waktu sedimentasi harus sama untuk kedua kandidat. Untuk DAF, gunakan evaluasi yang merepresentasikan kontak udara dan penyisihan buih; untuk filtrasi, jar test perlu dilengkapi uji keterfilteran atau uji percontohan karena penampakan flok saja tidak memprediksi kehilangan tekanan.
Checklist penerimaan:
- gunakan satu batch air dan satu metode preparasi stok yang terverifikasi;
- sertakan blanko dan rentang uji dosis di sekitar kandidat optimum;
- ukur pH/alkalinitas akhir, kekeruhan atau TSS, parameter sasaran, waktu/kecepatan pengendapan, serta volume dan kemampuan pengurangan kadar air lumpur;
- ulangi kondisi kandidat agar keterulangan terlihat;
- lanjutkan ke uji pabrik dengan titik penahanan, bukan langsung mengganti program penuh; dan
- evaluasi air olahan, siklus filter, lumpur, konsumsi, serta pemakaian tangki pada periode yang sama.
PT Beta Pramesti Asia menyediakan koagulan industri dan flokulan untuk pembentukan serta pemisahan flok. Jika hasil lolos tetapi keluaran pompa tidak stabil, dosing pump Watermart menjadi pilihan peralatan yang relevan; konsentrasi, viskositas, material, tekanan balik, dan rentang kendali harus masuk spesifikasi.
Kesimpulan
Pemenang perbandingan PAC dan alum adalah program yang menghasilkan air lulus dengan stabil pada biaya total terendah, bukan produk dengan harga atau dosis nominal terendah. Normalisasikan produk terkirim dan kadar aktif, tetapi gunakan jar test serta uji pabrik untuk memutuskan karena kadar aktif tidak mewakili kebasaan dan spesiasi.
Kriteria kualitas harus berasal dari tujuan air dan ketentuan lokasi. Untuk air limbah industri Indonesia, periksa PP Nomor 22 Tahun 2021, Permen LH Nomor 5 Tahun 2014, perubahan sektoral yang berlaku, serta Persetujuan Teknis pabrik; regulasi tersebut tidak menetapkan dosis PAC atau alum universal. Penanganan produk yang tergolong B3 juga harus mengikuti SDS dan PP Nomor 74 Tahun 2001.
Kirim analisis air, debit, proses pemisahan, target kualitas, TDS/CoA kandidat, data lumpur, dan biaya setempat melalui halaman kontak Beta Pramesti Asia untuk menyusun matriks uji yang dapat diaudit.
Sumber teknis: US EPA Appendix F—Jar Tests; EPA technical memorandum on converting alum to PAC; PP Nomor 22 Tahun 2021; dan Permen LH Nomor 5 Tahun 2014.